Tuesday, October 27, 2009

InDaHnYA SaLiNg MeNJaGa

“Oh indahnya saling menjaga, saling mengasihi karena Allah...” penggalan lirik opik dan amanda yang menyanyikan lagu tentang sedekah sudah beberapa hari ini ku ulangi di hp ku ketika waktu-waktu kosong ku . Ada hal yang begitu saja muncul ketika mendengarkan syair ini. Budaya untuk saling menjaga, saling mengasihi karena Allah. hm... terdengar sangat Indahkan...?

Penjagaan menurutku adalah sebuah sikap untuk melindungi sesuatu yang kita sayangi. Seorang ibu yang menjaga bayinya agar tidak digigit nyamuk hingga buah hatinya itu bisa tidur dengan pulas, misalnya. Penjagaan adalah salah satu bentuk ekspresi dari rasa cinta kita terhadap sesuatu, yang karena cinta itu timbulah rasa sayang. Penjagaan juga bisa berarti bahwa mengawasi agar apa yang diawasi itu selalu berada pada koridor yang benar dan menjadi baik. Misalnya seorang ayah, akan berbeda ketika dia menanggapi anak tetangganya dengan anaknya yang seharian bermain playstation, kalo anak tetangga mungkin dia tidak ambil pusing dan membiarkannya saja. Tapi karena ingin melihat anaknya baik, maka dia akan membatasi anaknya untuk sesuatu yang membuang-buang waktu tanpa memberikan kebaikan baginya kelak, maka disuruhlah anaknya untuk lebih banyak belajar. Bahkan mungkin kalo perlu pake acara ngomel-ngomel ato ditambah dengan cubitan sayang jika anaknya membandel (hehehe...)

Pada dasarnya menjaga adalah salah satu ekspresi kecintaan. Seorang saudara yang mencintai dan menyayangi saudaranya karena Allah pastilah selalu menjaga saudaranya untuk terus berada dalam jalan kebenaran. Inilah yang mungkin sekarang saya melihatnya sudah mulai hilang dalam interaksi kita. Apakah sikap cuek kita disebabkan kesibukan kita, ato karena memang perasaan cinta itu yang sudah mulai menguap dalam hati kita karena kita sudah tidak peduli lagi untuk merawatnya tumbuh di taman cinta hati kita (weits.... :).

“hallo, aswb. Gimana kabar ta? Lg dimana?”, “akhi, kenapa nt pake sepatu yang kiri dulu?”, “akhi, kok makannya sambil berdiri, pake tangan kiri lagi (ndak bagi-bagi pula hihihihi..)”. “akhi, kenapa pekan lalu g datang liqo”, “sepertinya nt ada masalah, ada yg bisa sy bantu?”, “ukhti, kenapa dandanannya setiap menor sekali? Tabarruj itu!”, “astagfirullah... ganti topik lain saja deh, takutnya kita sedang berghibah”, “ukhti, kenapa kemalaman pulangnya, siapa yang antar semalam?”, “ukhti, kok pake celana jeans?”,“afwan ya akh ana mau tabayyun , kemarin ana liat nt jalan berdua dengan seorang akhwat, saudara ta kah? kenapa bisa?”, dll (ini pertanyaan dari ikhwan u ikhwan, dan dari akhwat untuk akhwat nah)

Apa sikap ta kalo ada pertanyaan seperti itu ditujukan kepada kita? Merasa risih kah kita? Ato Mungkin sempat terbetik “neh orang gila urusan sekali yah, sudahlah urusi dirimu sendiri!”. Ah... tidak kah kau tahu kawan kalo pertanyaan-pertanyaan seperti itu boleh jadi adalah ungkapan cinta dari seorang saudara yang menyayangi kita. Dan itulah bentuk penjagaannya kepada kita. Mungkin terdengar sewot tp boleh jadi dialah yang paling sayang diantara semua teman kita.

Seperti dulu saya agak risih dengan sikap mama ku yang menelpon ku paling sedikit 3x dalam sehari. “dimana?”, “Lagi ngapain?”, “Sudah makan?”, “perhatikan makan mu”, “Kalo makan jangan sembarangan”, “jangan lupa belajarnya”, “jangan ngebut kalo bawa motor”, “jangan kemalaman pulangnya”, dll. Aku merasa sudah dewasa yang tak perlu lagi di kontrol sedemikian tapi akhir nya aku mencoba mengerti. Itulah mungkin ekspresi cinta seorang ibu yang terpisah jauh dari anak kesayangannya ^_^v dan akhirnya syukur itu pun terus kuhadirkan karena ku tau mama sangat mencintai anak satu-satunya ini hehehe... sekarang malah kalo g ada telpon dari mama dalam sehari saya malah merasa g enak. ^_^ love you mom...

(lanjut....) mungkin karena interaksi kita yang semakin lebih banyak dengan ‘duni luar’ sehingga ada nilai-nilai yang mulai memudar dari diri kita. Dulu kita begitu menjaga diri sekarang mulai membuka diri dari apa yang dulu kita mungkin anggap tabu. Kebiasaan mendengar murottal mungkin mulai diganti dengan lagu-lagu ‘top of the top’ yg tentu bertemakan cinta, yang dinyanyikan artis-artis yang memang suaranya lebih bagus dan ngetop dimana-mana. “datanglah...., kedatangan mu ku tunggu, telah lama, telah lama ku menunggu....” (gedubraakkk...!!!!)

Semua itu terkadang kita lakukan dengan tidak menyadarinya, dan hanya mereka yang mencintai kitalah yang berusaha untuk menjaga kita, mengingatkan, mungkin dengan caranya bertanya. Ya.. mungkin dengan nada yang sedikit meninggi dan terkesan menggurui, ato apalah yang biasanya kita tangkap sebagai seseorang hakim yang sedang menyelidik. MUNGKIN...

Cobalah mengingat-ingat lagi seberapa kita peduli terhadap perubahan sikap saudara-saudara kita. Apakah kita termasuk orang yang sedih melihat mereka futur? Kemudian sudah kah kita menjaganya agar tidak semakin jauh dalam atmosfir kesalehan? Bertindak cepat agar dia bisa tersadar. Ato kita malah selalu ‘berhusnudzon’ ato pura-pura tidak tahu, ketika melihatnya mulai menjauh. “ah... mungkin dia sedang jenuh, paling nanti dia sadar sendiri”. Ato jangan-jangan kita langsung mencibirnya dan tidak peduli, “edede kenapa kah musti selalu mo diperhatikan?, harusnya dia yang sudah lama liqo itu bisa menjaga dirinya sendiri”.

Kawan, Bukankah Allah jika masih mencintai seorang hamba maka diberilah selalu teguran kepada hambaNya, ditanamkan kesadaran dalam diri hambaNya, agar hamba itu segera kembali ke jalan kebenaran dan selamatlah ia. Hatinya telah mendapatkan manisnya iman, maka ia akan sensitif merasakan pahitnya kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Dan jika cinta Allah kepada hambaNya sudah tidak ada maka dibiarkanlah hamba itu semakin tersesat dalam kesesatannya. Dicabutlah kesadaran dan malu itu dalam hatinya. Bahkan mungkin ketika melakukan dosa dengan bangga dia berkata, “Liat ka eh...”! (naudzubillahi min dzalik). Dia dibiarkan terus dalam kesesatanya, Sehingga dia akan mendapat siksa yang amat teramat sangat pedih. “Maka biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka.” (43:83)

Sangatlah menyedihkan kalo hidup ini tidak ada lagi yang berusaha untuk meluruskan saat kita mulai keluar jalur. Menguatkan saat kita lemah. Mengingatkan saat kita lupa. Membenarkan saat kita salah. Bukankah manusia adalah tempatnya salah dan khilaf?. Maka kita selalu disuruh untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Maka saling menjagalah kita, karena kita adalah saudara yang cintanya insya Allah karena Allah semata. Bersyukurlah jika banyak saudaramu yang menjagamu, dan berusalah untuk menjaga saudaramu agar kita bisa berkumpul kembali di surga kelak dan saling berkunjung.

“jika penghuni surga telah masuk surga, maka setiap saudara merindukan saudara yang lain. Lantas ranjang ini berjalan ke ranjang itu dan ranjang itu berjalan ke ranjang ini hingga keduanya berkumpul. Salah seorang dari keduanya berkata, “tahukah engkau kapan Allah memberi ampunan kepada kita?” jawab temannya, “ketika kita sedang berada di salah satu tempat, kita berdoa kepada Allah kemudian Allah memberi ampunan kepada kita”.(dari anas bin malik)--- (salah satu tempat itu saat rapat kita mengurus dakwah di sekolah, kampus, lingkungan sekitar, dll)

Jadilah engkau kawan sebagai seorang saudara yang, “Senyum dan tutur nya selalu menggerakkanku untuk meraih surga, teguran dan marah nya mengingatkanku agar segera berpaling dari jalan neraka ku”. Yang selalu menyebut nama dan membayangkan wajah saudaranya dalam doa-doanya.

Mari kita saling menjaga karena saling mencintai karena Allah agar kita bisa menjadi sekelompok orang yang digambarkan oleh Rosulullah saw :
“Di hari kiamat, di sekitar arsy terdapat banyak mimbar yang terbuat dari cahaya. Di atas mimbar itu, ada sekelompok orang yang pakaiannya terbuat dari cahaya. Wajah mereka bercahaya. Padahal mereka bukanlah nabi dan bukan pula orang-orang syahid. Para nabi dan orang-orang syahid iri pada mereka.” Para sahabat bertanya, “siapa mereka, ya Rosulullah?” Beliau menjawab, “mereka adalah orang yang saling mencintai karena Allah. Mereka saling mencintai karena Allah, padahal diantara mereka tidak terdapat ikatan keluarga dan tanpa adanya ikatan harta diantara mereka.”

Indahnya... bahkan para nabi dan syuhada pun iri kepada mereka yang saling mencintai karena Allah.... ^_^

“Oh indahnya saling menjaga, saling mengasihi karena Allah....”
Selengkapnya...

Tuesday, September 29, 2009

BamBu YanG LuRUskaH Atau YanG BeNGkoK...?

"Sekarang ini kita harus hidup dengan filosofi bambu. biar bisa tetap eksis! kau lihat bambu itu, kalo dia lurus-lurus maka bisa dijamin batang pohon bambu yang lurus itu tidak akan bertahan lama karena akan dipotong oleh manusia untuk keperluannya." kata seseorang kepada saya ketika saya silaturahim kerumahnya.

“Nah sekarang ini kita nggak perlu terlalu jujur dalam hidup. Contohi itu bambu, Kalo bambu-bambu yang batangnya bengkok-bengkok, dia akan tetap hidup karena tidak bakalan dipotong. Makanya dalam hidup ini, kita sesekali ‘bengkok’ sedikit juga ndak apa-apa (na kana orang mangkasara ka, kalasian). Itu demi kelangsungan hidup kita. apa lagi kalo kau berada dalam dunia birokrasi. ah... kalo kau mau jujur terus menerus, bisa tergilas kau oleh kejamnya dunia ini. Menjadi orang baik itu lebih sering ‘makan hati’ nya. bisa-bisa kita dimanfaatkan ato dibodoh-bodoki untuk kepentingan mereka. Berat memang tp di situ mi mungkin jalan menuju surga”. begitu tambahnya. *Dalam hati ku ini orang sarannya untuk mematahkan semangat kita untuk jadi orang baik, ato gimana?* Hehehehe...

Dari pesan diatas seolah-olah prinsip ini mengajarkan kepada kita yang hidup dijaman yang sudah sangat edan ini. Bahwa menjadi orang baik itu susah. Kalo mau tetap eksis didalam kehidupan bermasyarakat jangan selalu menjadi orang yang lurus, karena ketika kita mencoba untuk lurus dengan segala idealisme kita maka siap-siaplah untuk segera terdepak dalam pentas kehidupan bermasyrakat. Begitu mungkin kesimpulan pendeknya.


Saya sempat berpikir dan mengiyakan dalam hati penjelasannya itu. karena hal ini rasa-ranya terjadi di dunia ku. Seolah-olah hal yang baik itu sudah menjadi asing di tengah-tengan kita. Mungkin ini hanya contoh-contoh kecil, ketika ada teman yang belajar mengisi waktu kosong ketika di kampus, diketawai dan dibilangi terlalu ‘bureng’ lah, mau sarjana sendiri lah, nyantai moko, dll. Kata-kata yang sebernarnya menjatuhkan semangat orang yang ingin menjadi lebih baik.

Ato seperti kata teman saya diawal-awal semester dulu sesaat sebelum ujian. "edede jamma ko terlalu jujur kalo ujian sebentar. Pake nggak mo nyontek segala! sekarang itu, intinya bagaimana kita harus lulus mata kuliah ini. kita harus cepat selesai!!!". Dan hanya sedikit orang saja yang saya lihat bisa bertahan di ruangan yang tidak mau menyontek. Mereka mungkin terlihat aneh. Ato bahkan dibilang pelit lah, nggak mau bantu teman lah, sok idealis lah, dll. Waktu itu memang pengawasnya nggak ‘sangar’ bahkan terkesan membolehkan seolah-olah berkata, “nyontek me ko asal jangan bersuara” nanti ketahuan dokter” heh...?!!!



Sedikit berbagi tentang nyontek. Semua orang tau kalo nyontek itu dilarang. Tapi masih saja menjadi kebiasaan saat ujian dari sebagian besar kita. (pasti ada yg bilang, “kita? Lo aja kalle...!” Hehehe). Kita nyontek karena ndak yakin dengan jawaban sendiri, karena persiapan belajarnya memang sangat sedikit. Dan juga perasaan malu kita kepada yang maha mengawasi (ALLAH), masih harus kita benahi lagi. Makanya untuk menutupi kekurangan (terlalu kasar kalo sa tulis kebodohan hihihi...) kita, dengan berbuat curang, maka menyontek lah pilihannya. Malu kalo nilainya E, maunya terus dapat nilai A tp belajarnya g seperti orang yang benar2 dapat A dari hasil usahanya sendiri, bukan dengan jalan nyontek.

Berlaku jujur itu memang berat to? Contohnya nggak nyontek dalam ujian. Bukannya saya tidak pernah nyontek. Pernah kok T_T (pengakuan dosa neh). di saat banyak mi teman2 ku sudah selesai, tinggal segelintir orang saja dari angkatan ku yang belum selesai. Di saat itu rasanya saran tentang bambu itu sangat tepat untuk saya lakukan, ‘bengkok’ sedikit biar bisa eksis. Di saat bertemu dengan seorang senior yang baru bisa mendapatkan Sked.nya setelah 8 tahun dan dia berkata pada ku, “kau tau man, dulu saya orang yang idealis sekali dalam hal menyontek, tapi ah... mo mi diapa, mungkin kemampuannku yang kurang. Kalo sya ndak tanggalkan dulu idealisme itu mungkin sampe sekarang saya belum Sked”. Akhirnya... kulakukan juga, hikz....

Tapi kau tahu kawan, selalu saja ada rasa bersalah ketika telah melakukannya. Dalam hati selalu berpikir, kalo mau melakukannya kenapa ndak dari dulu saja sejak awal semester. Apa bedanya kalo akhirnya dilakukan juga, meski di saat-saat terakhir. Tetap saja sudah berbuat curang. Dan insya Allah tak mau ku ulangi lagi. Ah... saya jadi merinding juga, tiba2 saya menghubungkan ini dengan kisah 2 orang bersaudara yang satu di kenal alim dan satunya lagi dikenal ahli maksiat, tapi dua orang ini mengakhiri hidupnya dengan caranya masing2. Si ahli maksiat menjemput maut saat melakukan amalan penghuni surga sehingga Allah ridho padanya. Dan si ahli ibadah mengakhiri hidupnya saat dia terbujuk rayuan setan dan meninggal dalam keadaan maksiat dan Allah murka padanya. Naudzubillahi min dzalik. “jangan kau menganggap sebuah dosa itu kecil ato menganggap remeh sebuah amal kebaikan. Boleh jadi dosa yang kau anggap kecil itu bisa membuat terbit murkanya Allah kepada mu. Dan boleh jadi amal yang kecil saja bisa menurunkan ridho Allah kepada mu”. Ya... Allah Ampuni aku.... T_T

Ah.. kita kembali lagi ke filosofi bambu (terlalu lama ngebahas nyontek) ^_^...

“Tidak apa ketika kita sesekali melanggar peraturan asalkan tidak ketahuan demi keberlangsungan dan eksistensi kita. Tidak apa sesekali berbuat curang toh kalo kita tidak berbuat begitu kita juga akan dicurangi. Akan Tersingkir.” Begitu katanya.

Menurutku ada yang sedikit salah ketika teman saya ini memandang filosofi bambu ini. Mungkin bisa kita pandang dari sisi yang berbeda. Misalnya, memang benar bambu yang lurus itu akan banyak dipotong dan dimanfaatkan oleh manusia. Sedangkan bambu yang bengkok-bengkok akan dibiarkan hidup begitu saja. Nah bukankah hidup ini lebih berarti kalo bisa bermanfaat bagi orang lain? Bambu yang bengkok boleh itu jadi hidup lebih lama, tapi dia hanya akan menghasilkan banyak sampah, toh akhirnya akan mati juga kan.

Jadi menjadi baik itu boleh jadi memang berat (kebanyakan kata ‘jadi’nya). Tapi dunia ini akan membutuhkan orang-orang baik. Orang-orang yang menjalankan prinsip hidupnya, yang secara universal diterima semua orang. Misalnya tentang kejujuran, kepedulian, tolong menolong, dan sebagainya.

Sungguh menyedihkan jika kita menjadi seperti apa yang digambarkan Allah dalam surah al’araf ayat 179: “.....mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.

Kenapa Allah menganalogikan bahwa manusia yang hanya diam dan tidak memanfaatkan segala potensi yang ada dalam dirinya untuk kemaslahatan diri dan lingkungannya lebih rendah dari binatang ternak? Karena, perhatikanllah bahwa binatang ternak dengan segala keterbatasan yang ada padanya itu bisa memberikan manfaat kepada apa yang ada disekitarnya, ulat sutra menghasilkan benang sutra yang indah, lebah menghasilkan madu, sapi mengahasilkan susu dan daging, itik menghasilkan telur, cacing bisa menyuburkan tanah, lantas muncullah pertanyaan itu. Saya bisa memberikan apa....?

Menjadi baik itu mungkin susah dan berat, sebagaimana Anas bin Malik menuturkan, Rasulullah SAW bersabda: “Akan tiba suatu masa pada manusia, dimana orang yang bersabar di antara mereka dalam memegang agamanya, ibarat orang yang menggenggam bara api.” (HR. at-Tirmidzi)

Dan dalam hadis lain Rasulullah bersabda,” Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing sebagaimana ia datang. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” Sahabat bertanya,” Siapakah orang-orang asing itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,” Yaitu orang-orang yang tetap shalih ketika manusia telah rusak.”(Silsilah ash Shahihah 1273).

Nah, tetaplah berusaha untuk selalu memperbaiki diri walaupun itu terlihat asing di ‘dunia’ mu, berpegang teguh pada apa yang kita yakini. Menghidupkan sunnah Rosul dan menjalankan Perinta Allah azza wa jalla. Karena semua akan indah pada kesudahannya.

So mau menjadi bambu yang lurus ato bambu yang bengkok ^_^v
Selengkapnya...

MeMbeKasLaH RaMaDHaN kU

Gemuruh takbir mulai membahana di seluruh pelosok negeri, seluruh semesta memuji, mengagungkan dan membesarkan asma Allah menyambut hari kemenangan. Hati-hati orang beriman ikut bergemuruh. Ada sedih yang membuncah akan perpisahan dengan bulan suci ramadhan. Dan ada senyum kebahagiaan menyambut datangnya hari kemenangan.

Ah... perpisahan itu memang selalu mensisahkan kesedihan, apalagi dengan sesuatu yang kita cintai. Rasanya pertemuan itu begitu singkat. Padahal belum banyak rasanya amal sholeh yang seharusnya kita lakasanakan. Akan kah semua ibadah yang kita lakukan selama bersamanya, di terima di sisi Allah swt? Akankah kita mendapatkan Ampunan dari Allah? akankah Allah masih berkenan kepada kita untuk mempertemukan kembali dengannya, ramadhan, di masa yang akan datang? Ya Allah, kami menyesal lantaran belum mampu mengoptimalkan Ramadhan dengan baik. Padahal di situlah letak rahmat, ampunan, dan pembebasan dari siksa neraka. Itulah kesedihannya.....

Gemuruh takbir, tahlil dan tahmid menggema di seluruh penjuru bumi dan menyelusup ke dalam relung-relung hati kita. Itulah ungkapan rasa syukur kepada Allah swt setelah satu bulan penuh berhasil menjalani suatu proses pendidikan dan latihan pengendalian diri, serta proses pensucian diri, untuk menjadi pribadi-pribadi yang bertaqwa. Ya semoga saja predikat taqwa itu bisa tersematkan dalam diri-diri kita.

Rosulullah saw bersabda: "Barangsiapa menghidupkan bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lewat." (HR. Bukhari). Kita gembira karena dengan ibadah Ramadhan yang kita laksanakan, ada harapan besar yang bisa kita raih, yakni ampunan dosa dari Allah dan dikembalikan kita kepada fitrah seperti saat baru dilahirkan. Itulah letak kebahagiaannya.

Ramadhan adalah bulan tarbiyyah, bulan pendidikan bagi kita. Lihatlah perusahan besar atau sebutlah sebuah instansi pemerintahan. Biasanya mengirimkan orang-orang terbaiknya untuk di training selama 1 atau 2 bulan agar meningkatkan kapasitasnya dan bisa mempraktekkan apa yang di trainingnya itu di terapkan seterusnya di instansinya nanti.

Begitu juga ramadhan ini datang untuk mentraining kita orang-orang yang beriman untuk mendapatkan derajat taqwa dan melewati hari-hari sepanjang tahun dengan nilai-nilai yang membekas selama ramadhan yaitu kesucian jiwa, kebeningan pikiran, kekhusyu’an ibadah, dan semangat ihsan (melakukkan yang terbaik untuk Allah) yang dapat menjadikan kita sebagai insan-insan yang merasakan muraqabatullah, bahwa Allah selalu dekat dan mengawasi apa yang kita lakukan.

Di ramadhan ini, Puasa sebulan penuh ringan kita selesaikan, sholat malam dan witir bisa tiap hari kita lakukan, tilawah alquran bisa kita khatamkan sekali bahkan ada yang sampe 5 kali dalam waktu sebulan, infak dan sodaqoh begitu mudah kita keluarkan. Subhannallah Allah mudahkan semuanya itu bagi kita untuk bisa kita lakukan selama ramadhan. Inilah training kita selama sebulan. Semoga semua itu dapat kita pertahankan di sebelas bulan berikutnya. Nilai-nilai ramadhan yang MEMBEKAS dalam pribadi kita.

Semua amalan itu adalah akan mendekatkan kita dengan Allah SWT, dan mendekatkan kita dengan surga dan RidhoNya, memudahkan kita untuk menggapai segala cita dan impian kita tentang dunia dan juga akhirat.

Lihatlah sejarah telah membuktikannya. Kisah tentang panglima Muda yang di usianya yang ke 23 telah membuat seluruh syuhada cemburu padanya dan membuat dunia tercengang karena menyebrangkan kapal-kapalnya melewati gunung diatas bongkahan-bongkahan kayu yang dilumuri lemak ternak, dia sang penakluk konstantinopel, Muhammad Al Fatih. Obsesi kaum muslimin selama 7 abad sejak Rosulullah saw memberikan Nubuwat : “Konstantinopel akan bisa ditaklukkan di tangan seorang laki-laki . Maka sebaik-baik panglima adalah yang menaklukkannya dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR Ahmad).

Kisah tentang Al Fatih ini ku baca di buku karangannya Salim A. Fillah, “Jalan Cinta Para Pejuang”, berikut kutipannya :

Ia tahu, hanya seorang yang paling bertaqwa yang layak mendapatkannya.
Ia tahu, hanya sebaik-baik pasukan yang layak mendampinginya
Maka disepertiga malam terakhir menjelang penyerbuan bersejarah itu..
Ia berdiri diatas mimbar, dan meminta semua pasukan berdiri..

“Saudara-saudaraku dijalan Allah. Amanah yang dipikulkan ke pundak kita menuntut hanya yang terbaik yang layak mendapatkannya. Tujuh ratus tahun lamanya nubuat Rasulullah telah menggerakkan para mujahid tangguh, tetapi Allah belum mengizinkan mereka memenuhinya.”
Lalu dimulailah sang Panglima, mengecek bagaimana kondisi pasukannya yang membuat tubuh bergetar membacanya..

“Aku katakan pada kalian sekarang, yang pernah meninggalkan shalat fardhu sejak balighnya, silahkan duduk!”
Begitu sunyi, tak seorangpun bergerak.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ramadhan, silahkan duduk!”
Andai sebutir keringat jatuh ketika itu, pasti terdengar. Hening sekali, tak satu pun bergerak.

“Yang pernah mengkhatamkan Al-Qur’an melebihi sebulan, silahkan duduk!”
Kali ini, beberapa gelintir orang perlahan menekuk kakinya. Berlutut berlinangan air mata

“Yang pernah kehilangan hafalan Al-Qur’an-nya, silahkan duduk!”
Kali ini lebih banyak yang menangis sedih, khawatir tidak terikut menjadi ujung tombak pasukan. Mereka duduk.

“Yang pernah meninggalkan shalat malam sejak balighnya silahkan duduk!”
Tinggal sedikit yang masih berdiri, dengan wajah yang sangat tegang, dada berdegup kencang, dan tubuh menggeletar.

“Yang pernah meninggalkan puasa Ayyamul Bidh, silahkan duduk!”
Kali ini… semua terduduk lemas. Hanya satu orang yang masih berdiri…

Dia.. Sang Sultan..
Muhammad Al Fatih..
Dan kita sekarang mengetahui bahwa akhirnya obsesi 7 abad itu berhasil diwujudkan..
Konstantinopel menjadi bagian dari umat Muslim..
Penaklukan oleh sebaik-baiknya pasukan dan sebaik-baiknya panglima..

Subhallah.... bagaimanakah kita jika diberikan pertanyaan yang sama saat ini? sampai pertanyaan keberapakah kita sanggup berdiri? Aku membayangkan perasaan ku jika berada di pasukan itu saat itu. Ah..., mungki aku termasuk dari mereka yang duduk. Menangis sedih khawatir tidak bisa menjadi bagian dari pejuang ketika kemenangan itu diperoleh umat islam. Karena hanya yang terbaiklah yang akan pergi!!

Ah... saya kembali tersadar kenapa mesti dalam liqo-liqo pekanan kita para murobbi/ah kita selalu mempertanyakan amal yaumian kita. Memotivasi kita untuk gemar beribadah. Melihat seberapa dekat kita dengan Allah. Karena mereka ingin memastikan ‘pasukan’ kecil mereka adalah pasukan yang selalu memperbaiki diri dan semakin dekat dengan Allah. Dan mereka sebagai ‘panglima’ harus berusaha lebih baik lagi dari ‘pasukan’nya.Dari lingkaran kecil itu kita dididik untuk menjadi generasi Rabbani yang tegaknya kembali kemulian islam di muka bumi ini ada dipundaknya. Dan kemenangan itu... ya kemenangan itu akan semakin dekat dengan kita ketika kita juga semakin dekat dengan Allah SWT.

Ramadhan kali ini telah melatih kita untuk dekat dengan Allah. Melatih kita mengerjakan amal sholeh itu dengan mudah. Semoga semua itu bisa membekas dan tak pernah lagi pudar ketika kita mengarungi 11 bulan kita di luar ramadhan. Posisi kita mungkin sebagai ‘pasukan’ dalam organisasi kita atau mungkin juga ada yang menjadi ‘panglima’nya maka jadilah sebaik-baik pasukan dan sebaik-baik panglimanya. Yang paling bertaqwa di hadapan Allah. sehingga apa yang kita cita kan tentang hidup dalam kemulian islam atau mati sebagai syuhada itu dapatlah kita raih.


Allahumma balligna ramadhan....

Selengkapnya...

Monday, May 25, 2009

pAk TuA

Setelah seharian mengikuti baksos di dua tempat berbeda. Dari pagi sampe malam. Dan disaat semua pasien telah diperiksa dan bersiap-siap untuk pulang. Ternyata ada lagi pasien yang keluarganya datang ke posko meminta agar kami kerumahnya. Disana ada yang sakit dan kondisinya yang tidak memungkinkan untuk datang di tempat pemeriksaan kesehatan.

Saya dan k syarif (sdh dokter mi tawwa) yang langsung ke rumah pasien. Ada seorang bapak yang tergeletak lemah di atas tempat tidurnya. Kakinya lumpuh sebelah. Tak bisa lagi dia gerakkan. Tubuhnya kurus kering kerontang, sampai kau dapat melihat jelas tulang-tulang rusuknya. Hei, ada tattoo kelelawar di sebagian besar dadanya. Terbentang. Di lengan kanannya juga ada. Beberapa luka bekas jahitan pun menghiasi tubuhnya. Si ibu yang mungkin sempat melihat tatapanku yang sedikit aneh, langsung menjelaskan. “Bapak dulu punya kebiasan buruk, suka mabok dan perokok berat. Dia termasuk orang yang ditakuti disini karena suka sekali berkelahi. Mungkin karena dulu begitu sekarang mi baru muncul akibatnya”.

Ketika sy memeriksa tekanan darahnya, ya Allah… terasa sekali bahwa orang ini seperti tulang yang terbungkus kulit. Kurus sekali. Orang yang dulunya ditakuti dan punya kuasa, Tapi jika kau melihatnya sekarang, dia sudah tak berdaya. Hanya menghabiskan waktunya diatas pembaringannya.
Kebutuhannya pun bergantung dengan orang lain. Begitu mudahnya Allah membalikkan sebuah keadaan.

Pak tua itu terkena TBC yang sudah parah. Dan sedang menjalani pengobatan. Dia mengeluh sudah banyak dan lama meminum obat tapi dia tak kunjung sembuh. Ada tatapan kekecewan yg dia pancarkan lewat kedua matanya. “Tak perlu lagi obat itu! Saya masih tetap tidak bisa berdiri”. Keluhnya dengan bahasa yang tidak terlalu jelas.

Kalau melihat kondisinya, Tidak ada lagi yang bs dilakukan untuk memulihkan kondisi bapak ini seperti semula. Obat-obatan yang ada hanya bisa membantu untuk mengurangi penderitaannya.

Karena obatnya masih ada dari puskesmas. Obat tbc yang diberikan Cuma2 oleh pemerintah. K syarif hanya memberikan semangat kepada itu bapak. Memberikan harapan. Bahwa insya Allah sakit yang di derita sekarang ini, jika dihadapi dengan kesabaran akan menjadi segala penghapus dosa yang lalu. “Jangan pernah menyerah Pak! karena Allah juga menilai pahala atas kesungguhan bapak untuk sembuh, tetap diminum obatnya pak!”. Ujar k’ syarif sambil menggenggam tangan bapak itu. Erat. Sepertinya ingin mengalirkan semangat baru kepada bapak itu.

Kulihat binar matanya,seolah menyimak dengan baik saran dari dokternya ini. ada juga sinar penyesalan disana. Mungkin mendengar kata dosa dan pahala.

Ah saya langsung membayangkan keadaan diri, bagaimana kalo ini menimpa diriku. Terbaring lemah tak berdaya. Disaat-saat menjelang ajal sedang bekal untuk akhirat masih sangat jauh dari cukup.
Harus seperti itukah dulu kondisi kita baru akan tersadar ? apakah penyesalan itu memang selalu berada di akhir?

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu seluruh kebaikan yang telah ada maupun yang akan ada. Kebaikan yang telah kuketahui dan kebaikan yang belum kuketahui. Dan aku berlindung kepadaMu dari seluruh keburukan yang telah datang maupun yang akan datang. Keburukan yang telah kuketahui dan yang belum kuketahui. Dan aku memohon surgaMu dan apa-apa yang bisa mendekatkan kepadanya, baik ucapan maupun perbuatan. Aku berlindung kepadaMu dari api neraka dan apa-apa yang mendekatkannya, baik dari ucapan maupun perbuatan”. (h.r. Al Hakim, dari Aisyah)
Selengkapnya...

Saturday, March 14, 2009

TeNtANG KesENdiRiAn (LaGi)

Manusia diciptakan sebagai makhluk individu dan makhluk social. Memang fitrahya seperti itu. Kita tidak bisa hidup sendiri karena kita adalah makhluk social yang perlu adanya kerjasama dan interaksi. Tapi sisi individualistic itu kadang juga mendominasi kita. Bahwa ada saat dimana kita merasa nyaman dengan kesendirian kita. Menikmati kesendirian dengan ditemani buku dan secangkir coklat panas misalnya, atau mencari inspirasi di tepi pantai seorang diri, atau mengerjakan sebuah tugas dan menikmatinya sendiri sampai tugas itu rampung. Kesendirian seperti ini adalah kesendirian yang sangat kita butuhkan disaat-sat tertentu. Kesendirian yang dengannya kita merasa nyaman di sana.

Dalam mengarungi hidup ini, tidak selamanya nyaman kan? Selalu saja ada Benturan-benturan yang menghiasinya. Dari benturan-benturan inilah sebenarnya kita sedang menempa seperti apa karakter kita. Benturan itu adalah ujian yang kebanyakan tidak membuat kita nyaman dengannya, menyita perhatian, menguras tenaga dan butuh perjuangan untuk mengatasinya. Rosulullah pernah bersabada, sesungguhnya kesabaran itu ada pada benturan yang pertama. Jadi jika sejak awal benturan itu menghampiri telah kita sambut dengan kesabaran maka setelah itu semuanya akan bisa kita lewati, itu yang saya pahami dari hadis Rosulullah tersebut.

Ada kalanya kita memang perlu menyendiri sekedar untuk berhenti sejenak. Dari segala penat, kegelisahan, keraguan dan dari kelemahan yang hadir. Untuk mengambil nafas, mengumpulkan kekuatan kemudian kembali melanjutkan perjuangan. Seperti ketika kita pergi mukhoyyam (berkemah di atas gunung) memanggul corel yang berat untuk longmarch (perjalanan jauh) dengan medan yang berat. Medan terjal dan mendaki membuat beban yang dipikul seakan semakin berat, disaat-saat seperti itulah perlu sejenak kita berhenti, menarik napas dalam-dalam, meregangkan otot agar mendapat kekuatan baru untuk mengangkat beban hingga sampai ke tujuan.

Fase kesendirian pernah dialami Rosulullah, para Nabi, Sahabat, dan orang-orang besar lainnya. Bagi mereka sesungguhnya kesendirian itu bukanlah duka maupun kesedihan. Kesendirian orang-orang besar dalam sejarahnya justru merupakan tahap pemunculan keistimewaan dan keunikan yang berbeda dibanding orang-orang pada zamannya. Inilah yang saya coba menyebutnya dengan kesendirian yang menghidupkan. Kesendiriaanya melahirkan sebuah kesadaran dan ‘kehidupan’. Kesendiriannya adalah sebuah awal dari karya-karyanya, karena di dalam ruang kesendirian itu ia mencoba merenungi, menganalisa dan mencari solusi dan kemudian melakukan perubahan kearah yang lebih baik.

Kesendirian yang menghidupkan dicontohkan oleh Rosulullah saw. Lihat lah Ketika mekkah diguncang prahara kejahilian, ketika kondisi masyarakatnya sudah semakin dibutakan dengan kesyirikan, ketika nilai-nilai kemanusian tidak lagi dipedulikan, ketika tidak ada yang bisa memberikan solusi untuk memperbaiki semua itu, ketika itulah Rosulullah saw, menyendiri di gua hira, Mendekatkan diri kepada pencipta semesta raya mencari jawaban atas kegelisahan yang dirasakannya.

Kesendirian yang menghidupkan itu bisa datang dalam bentuk cobaan dan siksaan sebagaimana beberapa kisah ulama yang dalm kesendiriaanya tetap membela agama ini. Yang disaat banyak orang yang telah menyimpang dan keluar dari koridornya. Dia tetap berada dalam aqidahnya yang lurus. Sendiri berjuang karena kegetiran dan kepengecutan dari banyak orang. Maka sejarah telah mencatat nama-nama mereka, mengabadikan kisah mereka untuk terus menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya.

Lihatlah kisah Yusuf bin Yahya Al-Buwaithi, iya adalah lelaki saleh murid imam Syafi’i. Dizamannya terjadi penyimpangan pemahaman bahwa alquran adalah makhluk. Sebuah doktrin baru yang aneh dan menyimpang, yang kita kenal dalam sejarah islam sebagai fitnah mu’tazilah tentang alqur’an adalah makhluk. Dia pun disiksa karena tidak mau mengakui bahwa alquran adalah makhluk. Dia dipaksa pergi dari mesir ke iraq dengan siksaan yang mungkin hanya dirinya yang sanggup memikulnya. Dilehernya dikalungi besi, kakinya diikat, antara kalung di leher dan besi di kaki itu masih diikat lagi dengan rantai besi. Orang-orang memintanya agar menyerah saja. Tetapi dengan tegas ia mengatakan. ”Dibelakangku, ada ratusan ribu orang yang tidak mengerti arti semua ini”. Dia memahami betul bahwa betapa ia harus berjuang melawan rasa sakit, dan mungkin saja kematian yang terasa sangat dekat dalam kondisi seperti itu. Ia memutuskan untuk bertahan dalam kesendiriannya yang melelahkan itu di tengah ratusan ribu orang yang ramai dengan ketidakmengertian.

Adalagi kisah yang lebih luar biasa yang diceritakan oleh baginda Rosul saw tentang seorang pemuda di zamannya yang semula dipersiapkan oleh sang raja untuk menjadi ahli sihir tetapi dia lebih tertarik belajar pada seorang ahli ibadah tentang aqidah yang lurus dan akhirnya dia pun menjadi seorang yang benar aqidahnya. Singkat cerita dia pun dihukum oleh sang raja dan diperintahkan untuk meninggalkan agama tauhid itu. Tapi dia tetap bertahan dengan keyakinannya. Sebagaimana gurunya yang telah dibunuh dengan cara di gergaji dari kepala hinggah terbelah kedua badannya. Sang raja memerintahkan pengawalnya untuk untuk membunuh pemuda itu dengan cara dilempar dari atas gunung, di tenggelamkan di dasar laut tapi tetap saja tidak berhasil dan malah pemuda itu datang sendiri ke sang raja untuk kembali menghadap siap menerima hukuman apa yang akan di dapat selanjutnya.

Dengan rasa heran Raja bertanya lagi kepadanya, “Bagaimana keadaan orang-orang yang membawamu?” Pemuda itu menjawab, “Allah telah menyelesaikan urusan mereka”. Ia melanjutkan, “Engkau takkan dapat membunuhku kecuali jika Engkau menuruti perintahku. Dengan itu, Engkau akan dapat membunuhku” “Apakah perintahmu?”, tanya Raja. Pemuda itu menjawab, “Engkau kumpulkan semua orang di suatu lapangan, lalu Engkau gantung aku di atas tiang. Kemudian ambillah anak panah milikku ini, letakkanlah di busur panah dan bacalah, “Dengan nama Allah, Tuhan pemuda ini..” Lalu lepaskanlah anak panah itu, dengan itu Engkau dapat membunuhku”. Akhirnya semua usul pemuda itu dilaksanakan oleh Raja dan ketika anak panah telah mengenai pelipis pemuda itu ia mengusapnya dengan tangannya dan langsung mati. Maka semua orang yang hadir berkata, “Kami beriman kepada Tuhan pemuda itu.”

Itulah kawan yang saya maksud dengan kesendirian yang menghidupkan!!!. Wallahu’alam.
Selengkapnya...

Monday, February 16, 2009

KeLuaRgA BarU

Bayi mungil itu lahir. Tangisnya terdengar nyaring. Seketika lenyap gelisah sang ayah yang menanti kelahirannya sejak tadi. Rasa sakit si ibu pun segera terobati seolah telah diberi analgesia paling ampuh sedunia.Titik air mata itu jatuh juga. Bukan karena sakit, tapi karena bahagia. Hari yang dinanti itu telah tiba. Penantian 9 bulan lebih. Penantian yang terobati setelah mendengar tangis bayi mungil itu. Selamat buat akh iswan dan istri yang baru saja mendapatkan buah hati tercintanya. 15 februari 2009 di rumah sakit Pertiwi Makassar. Selengkapnya...

Saturday, February 14, 2009

KeSenDiRiaN : ANtaRA MeMBunUH daN MenGHiduPKan


Perasaan sendiri terkadang tiba-tiba saja menghinggapi kita. Saat kesendirian bisa saja berarti secara fisik kita sendiri atau secara psikologi kita merasa tidak ada lagi yang perhatian sama kita atau merasa tak nyaman ditengah keramaian. Dan kadang kesendirian itu menjadi pilihan kita. Nah kensendirian yang menjadi pilihan inilah yang saya bilang mungkin saja bisa membunuh dan menghidupkan.

Kesendirian yang membunuh

Contoh kasusnya seperti ini Ada saat dimana saya ingin menjauh dari segala hiruk pikuk dunia ini, ingin berlari dari semua masalah yang seolah tak pernah bosan untuk berkunjung, ingin menghapus semua penat di jiwa. Merasa kecewa mendapati keadaan yang jauh dari harapan atau idealisme saya. Ingin lepas dari semua amanah dan beban yang terasa tak sanggup lagi untuk dipikul, sebenarnya bukan tidak sanggup lagi dipikul, tapi lebih pada perasaan kecewa bahwa kenapa beban itu terasa saya sendiri yang menanggungnya (padahal cuma perasaan ku ji!!!). Diam dalam kesendirian menjadi pilihan. Mencoba menghindar dan tidak mau lagi peduli, terkesan melarikan diri. Semuanya dilakukan agar bisa menenangkan diri. Atau memilih kesendirian agar berharap bisa memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Disaat-saat seperti inilah kesendirian itu bisa saja mulai ‘membunuh’ ku secara perlahan. Membunuh semangat ku, membunuh ghiroh dan segala apa yang membuat saya tetap menapaki jalan ini. Membuat langkah terhenti!!! Dan bahkan bisa saja langkah itu mulai menjauh dari koridornya dan akhirnya hilang entah kemana, naudzubillah…

Di saat seperti ini, di saat kita terhenti dan memilih untuk menyendiri. Kesendirian yang membunuh! Maka datanglah segala macam alasan ‘pembenaran’ itu. “sudah mi deh, capek ma”, “edede sudah saatnya saya memikirkan diriku”, “ah.. banyak ji orang nanti gantikan ka”, “kenapa cuma saya sendiri yang kerjakan ini, mana kah yang lain?”, dan sebagainya, kata-kata yang semakin melemahkan kita.

Perasaan seperti ini pernah saya rasakan bahkan sangat sering malah. Saat saya merasa telah melakukan banyak hal. Padahal sebenarnya kalo dipikir-pikir lagi, ah.. apalah semua yang sudah saya kerjakan. Tentu masih belum ada apa-apanya. Teringat kata seorang senior saya waktu SMA, “jangan sampai antum merasa ada dimana-mana, terlihat dimana-mana, Tapi dimana-mana antum tidak dianggap. Karena ada tidak nya antum sama saja, Cuma datang untuk menyetor diri. Tapi keberadaan antum tidak dirasakan manfaatnya”. Astagfirullah…..

Maka berhati-hatilah jika kesendirian seperti ini sedang menimpamu kawan. Jangan engkau menjauh dari saudaramu, menghindar dan akhirnya engkau terpisah dari mereka. Disaat-saat lemah seperti ini seharusnya engkau semakin dekat dengan mereka, semakin dekat dengan saudara-saudara mu, meminta taujih agar bisa keluar dari perasaan-perasaan seperti itu.

Rosullullah pernah mengumpamakan kepada kita bahwa Sesungguhnya syaitan itu serigala kepada manusia, sebagaimana serigala terhadap kambing. Dia akan dengan mudah menangkap mana-mana yang jauh dan terpencil. Maka janganlah kamu memencilkan diri dan hendaklah kamu berjamaah dan mencampuri orang ramai serta menghadiri masjid.

Salah satu obat hati itu adalah berkumpul dengan orang-orang sholeh karena dengan begitu kita dapat merasakan semangatnya, merasakan sinar kesholehan, merasakan aura perjuangan untuk mewujudkan cita-cita mulia itu. Bahkan akan kau dapatkan itu hanya dengan menatap wajahnya…. !

Seperti waktu itu, sore yang diguyur hujan saat DS, perasaan malas pun menghinggapi dan ada langkah berat yang terayun karena benih-benih ketidak ikhlasan itu mulai menggerogoti. Tapi ketika melihat 2 orang ummahat yang menggendong anaknya sambil DS di tengah guyur hujan, dengan wajah yang terlihat lelah tapi ada keikhlasan disana, maka saat itu juga seakan aura itu mengalir ke tubuhku mengusir segala kemalasan itu.

Ketika perasaan kesendirian itu mulai melemahkan kita mungkin ibarat Seperti cahaya lilin yang mulai redup dan sebentar lagi akan mati, cobalah terus untuk menjaga cahaya itu. Awalnya mungkin akan susah, karena dia begitu rapuh digoyang angin kesana kemari. Hampir padam. Disitulah ujiannya kawan. Bagaimana kita menjaga agar cahaya itu tetap menyala mengusir gelap. Awalnya dia hanya bisa menyinari dirinya sendiri, lingkungan sekitarnya, kemudian sedikit demi sedikit terang menjadi seperti cahaya bulan tapi cahaya itu masih meminjam cahaya mentari. Berusahalah terus hingga cahaya itu seperti mentari yang semakin orang mendekat kepadamu semakin cahaya itu terang benderang. Dan akhirnya cahayamu itu bisa menghidupkan, menghidupkan cahaya-cahaya yang sama seperti mu dulu yang tadinya juga mulai meredup.

Intinya, Kesendirian yang membunuh adalah kesendiran yang dengannya kita semakin lemah dan akhirnya membuat kita terhenti, terhenti dari jalan mulia ini, jalan dakwah!

Wallahu’alam bishowab.

To be continue Kesendirian yang menghidupkan
Selengkapnya...

Labels

Modified by Blogger Tutorial

THe BriGHt SiDE Of Me ©Template Nice Blue. Modified by Indian Monsters. Original created by http://ourblogtemplates.com

TOP